Magister Akuntansi FEB UNY Hadirkan Dosen Praktisi Bahas Tata Kelola TI Berbasis COBIT

Program Studi Magister Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), menyelenggarakan kuliah dosen praktisi dengan topik “Tata Kelola Teknologi dan Informasi Berbasis COBIT”. Kuliah menghadirkan Tony D. Susanto, Ph.D. (ITIL, COBIT, TOGAF) sebagai narasumber. Materi membahas tata kelola teknologi dan informasi dari sisi konsep, kebutuhan organisasi, hingga penerapan kerangka COBIT 2019.

Tony D. Susanto merupakan dosen Program Studi S3 Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta peneliti bidang e-Government dan IT Governance. Ia juga tercatat sebagai President Association of Information Systems–Indonesia (AISINDO), pernah menjadi Tim Asesor Eksternal Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) KemenPAN-RB pada 2020–2025, serta terlibat dalam penyusunan perangkat evaluasi SPBE, kebijakan platform digital, dan tata kelola data pendidikan. Pengalamannya juga mencakup pendampingan e-Government dan smart city pada berbagai pemerintah daerah.

Dalam perkuliahan, mahasiswa diajak memahami tiga pertanyaan utama, yaitu apa yang dimaksud dengan tata kelola TI, mengapa organisasi membutuhkan tata kelola TI, serta bagaimana tata kelola TI dirancang. Materi menempatkan teknologi dan informasi sebagai bagian dari pencapaian visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi organisasi, sehingga keputusan mengenai teknologi tidak berdiri terpisah dari proses bisnis.

Tony menjelaskan bahwa tata kelola TI berkaitan dengan tanggung jawab pimpinan dan struktur pengambilan keputusan untuk memastikan teknologi mendukung strategi dan tujuan organisasi. Tata kelola juga mengatur hak pengambilan keputusan serta akuntabilitas dalam penggunaan teknologi. Dengan pendekatan tersebut, investasi dan penggunaan TI perlu dikaitkan secara langsung dengan kebutuhan bisnis dan hasil yang ingin dicapai organisasi.

Pembahasan kemudian diarahkan pada perbedaan antara governance dan management. Dalam tata kelola, aktivitas utama mencakup Evaluate, Direct, dan Monitor (EDM), yaitu mengevaluasi kebutuhan dan sasaran organisasi, memberikan arah melalui pengambilan keputusan dan penetapan prioritas, serta memantau kinerja dan kepatuhan. Sementara itu, manajemen menjalankan aktivitas perencanaan, pembangunan, pengoperasian, dan pemantauan untuk melaksanakan arahan yang telah ditetapkan oleh pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola.

Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai hubungan antara manfaat dan risiko dalam tata kelola TI. Tata kelola tidak berhenti pada kepatuhan terhadap peraturan dan kebijakan, tetapi perlu memastikan penggunaan TI menghasilkan manfaat bagi organisasi sekaligus mengendalikan risiko yang muncul. Materi menempatkan penciptaan nilai, pemanfaatan sumber daya, akuntabilitas, dan pengendalian risiko sebagai bagian dari pertimbangan tata kelola.

Pada bagian utama perkuliahan, Tony memperkenalkan COBIT 2019 sebagai kerangka best practice yang dapat digunakan untuk tata kelola dan manajemen teknologi dan informasi. COBIT membantu organisasi menyelaraskan teknologi dan informasi dengan kebutuhan bisnis sehingga penggunaan TI mendukung pencapaian tujuan organisasi. Kerangka ini dikembangkan oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA) dan IT Governance Institute (ITGI).

COBIT 2019 memiliki tujuh komponen sistem tata kelola, meliputi struktur organisasi; sumber daya manusia, keterampilan, dan kompetensi; budaya, etika, dan perilaku; prinsip, kebijakan, dan kerangka kerja; informasi; layanan, infrastruktur, dan aplikasi; serta proses. Dalam materi, komponen tersebut juga dibandingkan dengan empat dimensi ITIL 4 untuk membantu mahasiswa melihat keterkaitan antara tata kelola dan manajemen layanan TI.

Lebih lanjut, COBIT 2019 Core Model terdiri atas 40 objectives dalam lima domain. Domain EDM (Evaluate, Direct and Monitor) terdiri atas lima sasaran tata kelola yang menjadi tanggung jawab dewan direksi. Sementara itu, 35 sasaran manajemen dibagi ke dalam APO (Align, Plan and Organize) sebanyak 14 objectives, BAI (Build, Acquire and Implement) sebanyak 11 objectives, DSS (Deliver, Service and Support) sebanyak enam objectives, serta MEA (Monitor, Evaluate and Assess) sebanyak empat objectives.

Materi juga memperlihatkan bagaimana tujuan organisasi diterjemahkan ke dalam tata kelola TI melalui pemetaan Enterprise Goals ke Alignment Goals, kemudian dilanjutkan ke Governance and Management Objectives. Objectives yang dipilih selanjutnya menjadi dasar dalam merancang komponen tata kelola dan manajemen yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Bagi mahasiswa Magister Akuntansi, pembahasan ini memberikan konteks praktis mengenai posisi tata kelola TI dalam pengendalian organisasi. Sistem informasi, data, risiko teknologi, kepatuhan, dan pengambilan keputusan saat ini terkait langsung dengan proses akuntansi, pengendalian internal, audit, serta penyediaan informasi bagi manajemen. Karena itu, pemahaman COBIT 2019 dapat digunakan untuk menganalisis apakah penggunaan teknologi telah memiliki struktur tanggung jawab yang jelas, selaras dengan tujuan organisasi, menghasilkan manfaat, dan memiliki mekanisme pengendalian risiko.

Melalui kuliah dosen praktisi ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari COBIT 2019 sebagai kerangka konseptual, tetapi juga memahami logika penerapannya mulai dari tujuan organisasi, penyelarasan kebutuhan bisnis dan TI, penentuan objectives, hingga perancangan komponen tata kelola. Pendekatan tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa Magister Akuntansi untuk menilai tata kelola teknologi dan informasi dalam konteks akuntansi, audit, pengendalian, dan pengambilan keputusan organisasi.