PkM Magister Akuntansi UNY Perkuat Literasi Keuangan Diaspora Indonesia di Malaysia

Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penguatan Literasi Keuangan Diaspora Indonesia di Malaysia”. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengetahuan praktis kepada diaspora Indonesia, khususnya mahasiswa dan calon mahasiswa di Malaysia, agar mampu merencanakan keuangan, memahami investasi, dan mengambil keputusan finansial secara lebih rasional selama tinggal dan menempuh pendidikan di luar negeri.

Salah satu materi utama kegiatan adalah “Financial Literacy for Beginners: Beginner Investing without FOMO” yang disampaikan oleh Dhyah Setyorini. Materi tersebut secara khusus membahas investasi bagi pemula dan cara menghindari keputusan investasi yang muncul karena fear of missing out atau FOMO.

Peserta diperkenalkan pada konsep investasi sebagai penempatan dana saat ini untuk memperoleh potensi manfaat ekonomi pada masa mendatang. Dalam setiap keputusan investasi, potensi return selalu berkaitan dengan risiko. Materi juga memperluas pemahaman peserta bahwa investasi tidak hanya berbentuk saham atau instrumen pasar modal, tetapi dapat berupa obligasi, sukuk, reksa dana, ETF, Surat Berharga Negara, emas, aset riil, bisnis, aset produktif, hingga investasi pada pendidikan dan keterampilan.

Materi menekankan bahwa keputusan investasi yang sehat harus dimulai dari kondisi keuangan pribadi. Investor pemula perlu memahami pendapatan, pengeluaran, utang, dan dana darurat sebelum menempatkan dana pada instrumen investasi. Setelah itu, tujuan keuangan perlu ditetapkan berdasarkan jangka waktu, kemudian instrumen dipilih berdasarkan kebutuhan dan profil risiko, bukan karena sedang populer. Peserta juga diarahkan untuk memulai dengan nominal yang terukur, memeriksa legalitas produk dan lembaga, membaca dokumen investasi, serta menghitung return setelah mempertimbangkan risiko, biaya, pajak, dan inflasi.

Pembahasan mengenai risiko menjadi bagian penting dalam sesi tersebut. Risiko investasi tidak hanya berupa kemungkinan turunnya nilai investasi, tetapi juga mencakup risiko pasar, likuiditas, kredit atau gagal bayar, inflasi, mata uang, konsentrasi aset, perilaku investor, dan penipuan. Risiko perilaku mendapat perhatian khusus karena investor dapat mengambil keputusan yang kurang rasional ketika panik saat pasar turun atau mengalami FOMO ketika harga aset meningkat.

Karena itu, peserta diperkenalkan pada alur pengambilan keputusan investasi yang lebih sistematis, yaitu menentukan tujuan, mengenali profil risiko, memilih instrumen, melakukan diversifikasi, memeriksa legalitas, melakukan evaluasi berkala, dan menyeimbangkan kembali portofolio apabila diperlukan. Pendekatan tersebut menggeser perhatian investor pemula dari pertanyaan “berapa keuntungan yang diperoleh?” menuju pertanyaan yang lebih lengkap mengenai risiko, waktu penggunaan dana, legalitas produk, kewajaran imbal hasil, dan posisi investasi tersebut dalam keseluruhan portofolio.

Materi juga membahas berbagai kesalahan yang kerap dilakukan investor pemula, seperti membeli produk karena ikut-ikutan, menggunakan uang kebutuhan pokok untuk investasi, belum memiliki dana darurat, terlalu berorientasi pada return masa lalu, tidak menghitung biaya, panik ketika harga turun, serta terlalu percaya pada rekomendasi influencer. Peserta diingatkan bahwa status legal suatu produk tidak berarti investasi tersebut bebas dari kemungkinan kerugian.

Untuk mencegah FOMO, peserta juga diajak lebih berhati-hati terhadap instrumen atau aktivitas berisiko tinggi. Materi menyarankan agar aset kripto hanya ditempatkan dalam porsi kecil untuk tujuan pembelajaran, menghindari saham yang sangat dipengaruhi sentimen atau manipulasi harga, serta tidak menjadikan trading harian sebagai pilihan utama bagi investor pemula. Produk yang viral di media sosial juga harus diperiksa legalitas, risiko, biaya, dan dasar analisisnya sebelum dana ditempatkan.

Selain literasi investasi, kegiatan membahas persiapan studi dan pengelolaan kehidupan finansial mahasiswa Indonesia di Malaysia. Materi Roadmap Persiapan Studi menguraikan tahapan mulai dari menentukan kampus, menyiapkan kemampuan bahasa Inggris, mencari dan menghubungi calon supervisor, memperoleh Letter of Acceptance (LoA), mengurus visa, mencari tempat tinggal, berangkat ke Malaysia, melakukan registrasi kampus, hingga beradaptasi pada semester pertama.

Aspek pengelolaan biaya hidup mendapat perhatian karena pilihan tempat tinggal dan pola konsumsi akan memengaruhi kebutuhan keuangan mahasiswa. Materi membandingkan pilihan akomodasi on-campus dan off-campus serta mengingatkan peserta untuk memeriksa lokasi, akses transportasi umum, biaya utilitas, kondisi kamar, dan ketentuan pengembalian deposit sebelum melakukan pembayaran. Materi juga memberikan gambaran komponen biaya hidup mahasiswa, termasuk sewa tempat tinggal, makan, transportasi, internet, dan pengeluaran tidak terduga.

Dua materi tersebut mempertemukan dua kebutuhan yang sering dihadapi diaspora mahasiswa: mengelola biaya hidup saat ini dan menyiapkan kondisi keuangan untuk masa depan. Peserta tidak diarahkan untuk segera membeli produk investasi, tetapi terlebih dahulu memahami arus kas, menyediakan dana darurat, menentukan tujuan, dan memilih investasi sesuai kapasitas keuangannya.

Bagi Program Studi Magister Akuntansi FEB UNY, kegiatan PkM ini juga menjadi sarana penerapan pengetahuan akuntansi dan keuangan pada persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia di luar negeri. Literasi keuangan dalam konteks diaspora tidak berhenti pada kemampuan menyusun anggaran, tetapi mencakup kemampuan menilai risiko, memilah informasi keuangan, menghindari keputusan berbasis FOMO, serta menghubungkan rencana pendidikan dengan keputusan keuangan jangka pendek dan jangka panjang.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan membawa satu prinsip sederhana dalam mengelola keuangan selama berada di Malaysia: amankan kebutuhan utama dan dana darurat terlebih dahulu, kemudian berinvestasi berdasarkan tujuan dan analisis—bukan karena takut tertinggal tren.