You are here
PkM Magister Akuntansi UNY Perkuat Ketahanan Finansial Diaspora Indonesia di ASEAN
Primary tabs

Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional bertajuk “Peningkatan Ketahanan Finansial Diaspora Indonesia di Negara Anggota ASEAN”. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universiti Malaya (UM), Universiti Brunei Darussalam (UBD), dan Komunitas LPDP Malaya.
Kegiatan PkM ini ditujukan untuk meningkatkan literasi dan kesiapan finansial masyarakat Indonesia yang tinggal dan menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya di kawasan ASEAN. Diaspora dan mahasiswa internasional menghadapi persoalan keuangan yang berbeda dibandingkan ketika berada di Indonesia, antara lain perbedaan mata uang, fluktuasi nilai tukar, biaya transfer lintas negara, biaya pendidikan, biaya tempat tinggal, serta kebutuhan membangun dana darurat dalam mata uang negara tempat tinggal.
Salah satu materi kegiatan membahas pengelolaan risiko fluktuasi nilai tukar yang disampaikan oleh Dayana Jalaludin, Ph.D. dari Department of Accounting, Universiti Malaya. Materi tersebut mengajak peserta memahami nilai tukar sebagai “harga” suatu mata uang dan bagaimana perubahan kurs dapat langsung memengaruhi daya beli mahasiswa Indonesia di luar negeri.
Sebagai ilustrasi, materi menunjukkan bahwa transfer keluarga sebesar Rp8.000.000 dapat menghasilkan jumlah Ringgit Malaysia yang berbeda ketika nilai tukar berubah. Pada kurs Rp3.800 per MYR, dana tersebut setara sekitar RM2.105, sedangkan pada kurs referensi Rp4.443,93 per MYR nilainya turun menjadi sekitar RM1.800. Dengan jumlah rupiah yang sama, penerima kehilangan daya beli sekitar RM305 akibat perubahan kurs.
Perubahan tersebut berpengaruh langsung terhadap kebutuhan mahasiswa, mulai dari biaya makan dan transportasi hingga pembayaran sewa tempat tinggal dan biaya pendidikan. Materi menunjukkan bahwa perubahan kurs dapat meningkatkan nilai rupiah yang harus disediakan untuk pengeluaran dalam Ringgit Malaysia, terutama untuk pembayaran dalam jumlah besar seperti uang kuliah.
Peserta tidak hanya diberikan pemahaman mengenai penyebab perubahan nilai tukar, tetapi juga dilatih menyusun respons finansial yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi menjelaskan bahwa pergerakan kurs dipengaruhi antara lain oleh suku bunga, inflasi, kondisi ekonomi, perdagangan, kebijakan, cadangan devisa, serta berbagai peristiwa global. Karena faktor-faktor tersebut berada di luar kendali individu, peserta diarahkan untuk memusatkan perhatian pada aspek yang dapat mereka kelola, yaitu anggaran, waktu pembayaran, cadangan dana, dan keputusan transfer dana.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah three-bucket budget, yaitu membagi pengeluaran menjadi kebutuhan yang wajib dibayar (must pay), pengeluaran yang masih dapat disesuaikan (adjustable), dan kebutuhan yang bersifat tambahan (nice to have). Peserta juga diarahkan untuk menyusun anggaran terlebih dahulu dalam mata uang yang digunakan di negara tempat tinggal, kemudian mengonversinya ke rupiah. Cara ini membantu peserta melihat kebutuhan finansial berdasarkan daya beli aktual, bukan hanya berdasarkan nominal dana yang dikirim dari Indonesia.
Materi berikutnya menekankan pembentukan financial buffer atau dana darurat. Peserta diperkenalkan pada tahapan membangun dana cadangan, mulai dari dana awal sekitar RM300–RM500 hingga sasaran dana yang dapat menutup kebutuhan dasar selama satu sampai tiga bulan. Dana darurat juga disarankan untuk dipisahkan dari dana pendidikan dan pengeluaran sehari-hari agar dapat digunakan ketika terjadi keterlambatan transfer, kebutuhan kesehatan, atau pengeluaran tidak terduga.
Untuk pembayaran besar seperti biaya pendidikan, peserta mempelajari strategi staggered conversion, yaitu melakukan konversi mata uang secara bertahap sebelum tanggal pembayaran. Strategi tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan pada kurs di satu hari tertentu. Materi menegaskan bahwa konversi bertahap bukan cara untuk menjamin kurs termurah, tetapi merupakan metode untuk mengurangi risiko waktu (timing risk), dengan tetap memperhitungkan biaya yang dikenakan penyedia jasa transfer.
Aspek praktis kegiatan diperkuat melalui pengenalan FINRES, suatu pendekatan pencatatan finansial lintas negara untuk diaspora ASEAN. FINRES menghubungkan literasi keuangan dengan praktik perencanaan melalui financial toolkit yang membantu peserta mengelola transaksi dan kebutuhan finansial dalam berbagai mata uang. Dalam mekanisme yang diperkenalkan, peserta atau diaspora mempelajari modul panduan dan menyusun financial toolkit pribadi, sedangkan fasilitator memantau proses dan memberikan umpan balik.
Peserta juga diarahkan untuk mengenali lima informasi keuangan yang perlu dipantau secara rutin: biaya minimum bulanan dalam mata uang negara tempat tinggal, jumlah dan tanggal pembayaran besar berikutnya, dana darurat yang tersedia, jumlah bersih yang diterima setelah kurs dan biaya transfer, serta tanggal penerimaan dana berikutnya. Untuk mahasiswa pascasarjana, perencanaan tersebut dapat ditambah dengan kebutuhan anggaran penelitian dalam mata uang yang akan digunakan untuk membayar pengeluaran penelitian.
Melalui rangkaian materi tersebut, kegiatan PkM Magister Akuntansi FEB UNY menempatkan literasi keuangan sebagai keterampilan praktis bagi diaspora. Peserta diarahkan untuk tidak berfokus pada upaya menebak pergerakan kurs, tetapi membangun kebiasaan finansial yang lebih terencana melalui penyusunan anggaran, pembentukan dana cadangan, pengaturan waktu konversi, perbandingan biaya penyedia layanan transfer, serta pengambilan keputusan yang tidak didorong oleh kepanikan.
Pada akhir kegiatan, peserta memperoleh seven-day action challenge untuk menerapkan materi secara langsung. Langkah yang disarankan meliputi menghitung biaya hidup minimum bulanan, mengidentifikasi pembayaran besar berikutnya beserta tenggat waktunya, membandingkan dua alternatif transfer yang teregulasi, mulai membangun atau menambah dana darurat, serta mendiskusikan jadwal kebutuhan dana dengan keluarga atau pemberi beasiswa. Mahasiswa pascasarjana juga diarahkan untuk menambahkan cadangan kurs bagi kebutuhan penelitian.
Kolaborasi antara UNY, Universiti Malaya, Universiti Brunei Darussalam, dan Komunitas LPDP Malaya melalui kegiatan ini memperluas ruang PkM Magister Akuntansi FEB UNY ke komunitas Indonesia di tingkat ASEAN. Fokus kegiatan diarahkan pada persoalan yang dihadapi diaspora secara langsung: bagaimana merencanakan, mencatat, dan mengendalikan keuangan ketika sumber dana dan pengeluaran menggunakan mata uang yang berbeda. Dengan kemampuan tersebut, diaspora diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik ketika menghadapi perubahan nilai tukar maupun kebutuhan finansial yang tidak terduga selama tinggal dan belajar di luar negeri.
Kontak Kami

Program Studi Magister Akuntansi
Copyright © 2026,